Restoran di Korea Selatan Tolak Pelanggan

Restoran di Korea Selatan Tolak Pelanggan

Restoran di Korea Selatan Tolak Pelanggan yang Makan Sendirian: Apa Alasan di Baliknya?

Kenaikan jumlah individu lajang di Korea Selatan tampaknya memengaruhi budaya makan di beberapa restoran, terutama di Kota Yeosu. Baru-baru ini, sebuah restoran di sana menarik perhatian publik setelah memasang papan nama kontroversial yang menolak pelanggan yang datang makan sendirian. Papan nama tersebut dengan tegas menuliskan, “Kami tidak menjual kesepian. Mohon jangan datang sendirian,” yang langsung memicu perdebatan sengit di media sosial.

Menurut laporan dari Korea Times

Menurut laporan dari Korea Times, papan tersebut memiliki beberapa pilihan bagi pelanggan yang ingin makan sendirian, di antaranya: membayar untuk dua porsi, makan dua porsi, atau menghubungi teman untuk menemani. Beberapa pengunjung mengkritik kebijakan ini, dengan sebagian besar mempertanyakan apakah makan sendirian benar-benar berarti merasa kesepian. Bahkan ada yang mencuitkan bahwa pemilik restoran seharusnya lebih terbuka dan tidak membatasi pilihan orang untuk makan sendiri.

Salah satu komentar yang muncul menyatakan, “Mengapa makan sendirian itu identik dengan kesepian?” Hal ini menunjukkan bagaimana konsep kebersamaan dalam budaya makan Korea masih sangat kuat, namun tidak semua orang sepakat dengan pendekatan seperti ini. Sementara itu, ada pula yang mendukung hak pemilik restoran untuk membuat kebijakan sesuai dengan visi mereka, meskipun kebijakan ini bisa berisiko merugikan.

Larangan makan sendirian di restoran bukanlah fenomena baru di Korea Selatan. Pada bulan Juli, seorang pelanggan yang datang sendirian ke restoran di Yeosu juga menerima perlakuan kurang menyenangkan dari staf yang menyuruhnya makan dengan cepat karena banyak orang yang menunggu. Padahal, pengunjung tersebut sudah memesan dua porsi.

Baca juga : Bupati Subang Geram

restoran di Korea Selatan

Mengapa restoran di Korea Selatan merasa perlu melarang pelanggan datang sendiri? Salah satu alasan yang mungkin adalah keinginan untuk mendorong interaksi sosial lebih banyak antara individu. Negara ini menghadapi peningkatan jumlah rumah tangga lajang, dengan persentase rumah tangga lajang di Seoul meningkat dari 29,5% pada 2015 menjadi 39,3% pada 2023. Dalam konteks ini, kebijakan tersebut bisa dilihat sebagai upaya untuk mengurangi kesepian sosial di kalangan masyarakat yang semakin banyak memilih hidup sendiri.

Namun, meskipun ada niat untuk meningkatkan interaksi sosial, kebijakan ini juga menunjukkan adanya bias terhadap individu yang memilih gaya hidup lajang. Menurut Gi-Wook Shin, seorang profesor sosiologi di Universitas Stanford, Korea Selatan perlu memikirkan ulang pandangan sosialnya terhadap orang lajang dan mulai menerima gaya hidup mereka secara lebih terbuka.

Di sisi lain, negara tetangga seperti Tiongkok justru melihat tren ini sebagai peluang. Restoran di Tiongkok, misalnya, mulai melayani pelanggan yang makan sendiri sebagai bagian dari perkembangan “ekonomi tunggal” yang kini semakin berkembang, memberikan keuntungan pada berbagai sektor termasuk kuliner dan properti. Dengan meningkatnya populasi lajang, banyak sektor yang menyadari potensi besar yang bisa diperoleh dari memenuhi kebutuhan pelanggan individu.

Kebijakan restoran di Yeosu ini menggambarkan ketegangan antara tradisi sosial yang mengutamakan kebersamaan dan tren baru yang lebih individualistik. Meski kontroversial, ini menandakan perubahan dalam pola pikir sosial di Korea Selatan yang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima secara luas.